Sudah Saatnya PANDI Direformasi !

pandi

Sejak 29 Desember 2006, PANDI (Pengelola Nama Domain Internet Indonesia) adalah organisasi yang menyediakan layanan registry nama domain dot id (ccTLD-ID). Organisasi ini dibentuk oleh (katanya) perwakilan dari komunitas teknologi informasi.

Dalam perjalanannya, layanan Pandi tidaklah cukup membuat puas banyak orang. Coba saja Anda cari di google dengan keyword “kecewa dengan pandi”, maka Anda akan menemukan puluhan, bahkan ratusan blog yang membahas kekecewaan mereka terhadap Pandi.

Lalu apa saja yang membuat mereka kecewa ? Sebagai orang awam, saya mencoba membuat rangkuman dari beberapa blog dan forum, ditambah dengan pengalaman pribadi saya berurusan dengan Pandi.

PANDI tidak konsisten

Cobalah Anda mengunjungi situs Pandi dan mendaftarkan domain Jakarta.web.id, saya yakin Anda pasti ditolak. Mengapa

Karena dalam Ketentuan Kriteria Umum Penamaan Domain .id pasal 2 secara gamblang sudah disebutkan bahwa, “Tidak menggunakan nama yang menunjukkan nama geografis.”

Lalu kenapa ada malang.web.id, mojokerto.web.id, jember.web.id ?
Kok bisa domain-domain tadi disetujui, sedangkan yang lain tidak ?

Ada satu contoh lagi, di mana secara jelas Pandi tidak konsisten dalam menerapkan aturan yang dibuatnya sendiri.

Masih di dalam Ketentuan Kriteria Umum Penamaan Domain .id, di pasal 8 dijelaskan bahwa “Nama domain minimum dua karakter”. Lalu kenapa ada u.co.id. Itu kan cuma satu karakter, kok disetujui ? Ada apa gerangan ?

PANDI bertindak melebihi kewenangannya

Beberapa hari yang lalu saya mendaftarkan domain **.web.id dan ***.web.id (bukan porno), besuknya saya dapat email yang menyatakan bahwa pendaftaran saya ditolak, karena bla bla bla (tidak perlu saya jelaskan alasannya, tidak penting).

Saya telah mencoba untuk menghubungi Pandi melalui email, mengajak untuk diskusi, mengapa domain yang saya daftarkan ditolak. Saya punya alasan bahwa domain tersebut tidak melanggar aturan Pandi. Tidak ada jawaban dari Pandi.

Menurut saya, seharusnya Pandi tidak mempunyai wewenang untuk menentukan siapa yang berhak dan siapa yang tidak berhak memiliki sebuah domain, karena itu sudah wilayah hukum. Sebagai registry (sekaligus registrar) seharusnya Pandi menerapkan asas first come first served, persis seperti yang tercantum dalam Ketentuan Umum.

Jika kemudian terjadi sengketa nama domain, biarkan pengadilan yang memutuskan, Lagi-lagi sebenarnya hal ini sudah tercantum dalam Ketentuan Umum pasal 4 yang berbunyi “Penyelesaian sengketa nama domain (dispute resolution) diselesaikan oleh Pemerintah Indonesia. Pandi akan melaksanakan hasil keputusan penyelesaian sengketa yang sudah memiliki kekuatan hukum tetap.”

PANDA lamban dalam menangani registrasi

Setelah melakukan pendaftaran domain, biasanya Anda harus menunggu 1 hari untuk mengetahui domain Anda disetujui atau tidak. Tapi kalau Anda mendaftarkannya hari Jumat malam, maka Anda harus menunggu jawaban tersebut sampai Senin siang. Karena waktu kerja staf PANDI adalah hari Senin s/d Jumat, jam 09:00 s/d 17:00, layaknya pegawai kantor kecamatan.

Ini bisnis online, Bung. Tidak bisa ditawar lagi, Anda harus menyediakan layanan 24 jam.

Kalau saja asas first come first served bisa dilaksanakan, hal ini akan sangat mengurangi beban kerja staf Pandi. Karena dengan diberlakukannya asas tersebut, pendaftaran domain bisa di-otomatisasi. Sehingga Pandi tinggal cek konfirmasi pembayaran saja.

Tags: , , ,

Comments
  1. Mengakali Pandi
  2. Kang Tupai
  3. Hendy Prima
  4. Ries
  5. Indra
  6. Aria
  7. Zick Keen
  8. keretaminiku
  9. afan
    • Yoshi

Tulis komentarmu

%d bloggers like this: